lampiran demokrasi

Lampiran Demokrasi

(bahwa jangan pernah melihat siapa yang mengatakan tapi lihatlah apa yang dikatakan)”

 

Suatu hari yang telah lalu bukan beberapa saat yang lalu aku tertidur di suatu tempat, sangat khas dengan cuaca yang menyebutnya istirahat. Merebahkan letih di pungung ini.

Ketika mataku sudah mulai bertingkah, aku terjaga, masih kantuk memang,, saat itu seorang anak kecil anggap saja namanya aninda, bertutur kepada ku : “om, kok tidurnya diatas meja?” iyaa,, jawab acuhku. “Om kok tidur diatas meja yaa?. Tadi om cuma istirahat, jawabku.

Lalu aku pindah ke kursi, mata yang masih terasa kantuk, mulai menyusun kursi, sebagai tempat menyusur kembali agar nyaman merebahkan diri.

Aninda yang masih berumur 3 tahun bertanya kembali, kali ini seperti menegur. Kendati mata redup aku bertanya : kenapa yaa? Sedikit bermunazara dengan nya. Lalu ia berujar : “om, kursi kan tempat duduk om.. tuturnya. aku beringsut bermaksud pindah kembali ke meja tadi. “Om,, meja kan tempat untuk menulis, buat belajar..” ujarnya polos.

Menatap rona mata penuh sorot, aku tertegun,, sembari turun dari meja ku belai rambutnya : iya om tidak tidur lagi. Lalu aku duduk di kursi yang ada dihadapan nya, kali ini hatiku yang tertegun. “ tidak boleh memilah ucapan, jangan pernah memilih, karna sepertinya ini nuraninya yang mengatakan, sambil menatap wajah nya polos. Aku bergumam “selagi suatu kata yang dikatakan benar, maka sampai kapan pun tetap benar, dan bila yang kulakukan salah biar bagaimanapun tetap salah, tidak ada perbedaan umur, tidak ada sangkut paut dengan kehebatan yang kita miliki dalam ilmu dan pengetahuan. Simple memang, namun terkadang kita enggan mempedulikan.

Mata yang sempat terlelap tadi menjadi sayu. Aku pun termangu. Barusan mendapati pelajaran yang berharga, sungguh tiada tara. Yaitu bahwa inti dari demokrsi adalah hati nurani. Anak kecil yang belum remaja, belum mengecam bangku pendidikan bahkan jelas masih ingusan secara tidak langsung mengajari ku makna dari demokrasi, kalah sama pemimpin yang hebat, sangat tinggi dalam pendidikan namun terkesan lupa akan nurani.

Andai para pemimpin negri akan siuman? Tidak berebut meja dan tidak lagi berebut kursi.

( M B )

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: