Letkol (Pol). Mangil Martowidjojo dan Bung Karno

PADA 30 September 1965 malam, Bung Karno memberikan sambutan pada pertemuan Persatuan Insinyur Indonesia di Senayan. Bapak kelihatannya agak kecewa karena banyak kursi VIP yang kosong.

Pada pukul 23.00 Bapak kembali ke Istana Merdeka, mengganti baju kepresidenan dengan baju lengan pendek warna putih dan celana abu-abu. Sekitar 20 menit kemudian, Bapak keluar Istana. Memakai mobil Chrysler nomor B 4747 warna hitam, tanpa memakai kopiah, Bapak menjemput Ibu Dewi yang sedang ada di Hotel Indonesia.

Bapak tetap ada di mobil sementara Suparto menjemput Ibu Dewi. Dari Hotel Indonesia, Bapak langsung ke Wisma Yaso. Pada 1 Oktober pukul 05.15, saya menerima telepon dari salah seorang anggota DKP yang bertugas di Wisma Yaso. Isinya: hubungan telepon keluar Istana diputus Telkom atas perintah militer.

Setengah jam kemudian saya sudah ada di Wisma Yaso. Di situ, pada pukul 06.00 saya mendengar bahwa rumah Jenderal Nasution dan Leimena ditembaki. Pada pukul 06.30 Bapak keluar, masih memakai baju lengan pendek dan tanpa kopiah. Bapak rupanya sudah dilapori terjadinya penembakan tersebut, hingga lalu memanggil saya dan meminta laporan yang jelas mengenai kejadian itu.

Waktu saya jawab bahwa saya belum tahu, Bapak marah. Kemudian ia bertanya, “Menurut kamu sebaiknya bagaimana?” Saya jawab, “Sebaiknya Bapak di sini dulu, atau bisa juga Bapak ke Istana.” Dengan konvoi, Bapak akhirnya berangkat ke Istana. Waktu sampai di Jembatan Dukuh Atas, ada kabar lewat pemancar radio bahwa Istana dikepung tentara.

Saya mencoba menghubungi mobil yang ditumpangi Bapak dengan handie talkie, tapi gagal karena alat itu tak berfungsi dengan baik. Sementara iring-iringan mobil dengan kecepatan sekitar 40 km per jam itu mendekati Istana, saya menyerukan untuk belok ke kiri, ke Jalan Kebon Sirih, tapi tak bisa didengar oleh ajudan di mobil Presiden. Saya semakin khawatir ketika iringan tak berbelok, sementara di kejauhan tampak tentara yang mengepung Istana.

Dengan berteriak keras akhirnya saya berhasil juga membelokkan iringan ke Jalan Budi Kemuliaan. Di sini iringan sempat terhenti karena jalan macet. Kemudian ada hubungan radio dengan ajudan Kolonel Saelan yang menginstruksikan supaya iring-iringan menuju ke Grogol, ke tempat Ibu Harjati, istri Bapak yang lain.

Rombongan tiba pada pukul 08.00. Sekitar pukul 09.00 datang Ajudan Komisaris Besar (Polisi) Sumirat dan Jaksa Agung Muda Brigjen Sunaryo. Kemudian dirundingkan untuk mencari tempat yang aman buat Bapak. Ada usul, misalnya, untuk membawa Bapak ke rumah kosong milik Sie Bien Ho di Kebayoran Baru, seorang kenalan yang pernah menawarkan rumah itu kepada Cakrabirawa. Alternatif ini tak jadi digunakan, karena Kolonel Saelan menginstruksikan untuk membawa Bapak ke Halim.

Instruksi ini diterima karena sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan, bahwa bila presiden dalam bahaya, ia bisa dilarikan ke asrama ABRI terdekat, ke pangkalan udara Halim Perdanakusuma (di sana ada pesawat Jetstar yang siap terbang), ke Tanjung Priok (di sana tersedia dua kapal ALRI Varuna I dan Varuna II), atau ke Istana Bogor (di sana tersedia helikopter).

Pada pukul 09.30 Bapak meninggalkan rumah Ibu Harjati. Mobil Chrysler diganti dengan mobil VW kodok biru. Isinya: Bapak, Brigjen Sunaryo, Ajudan Sudarso, dan Pengemudi Suparto. Tapi begitu melihat Pangau Omar Dhani dan deputinya, Leo Wattimena, berdiri di depan markas Angkatan Udara di Halim, mobil berbalik arah, dan tak jadi menuju landasan.

Ada pikiran untuk mencari rumah guna Bapak beristirahat. Lalu didapatkan rumah Komodor Susanto, pilot pesawat yang biasa dipakai Bapak bila keliling Indonesia. Selang beberapa waktu kemudian datang Brigjen Supardjo, yang dikawal Mayor Subambang dan Mayor Sutrisno.

Tak lama kemudian dengan pesawat helikopter datang Brigjen Sabur. Bapak menginstruksikan untuk memanggil Pangal, Pangak, dan Pangdam V/Jaya. Selang beberapa lama datang ajudan Kolonel Bambang Wijanarko.

Menjelang tengah hari, datang Pangal Laksamana Martadinata. Sebelumnya telah hadir Jaksa Agung Jenderal sutardhio dengan Jaksa Agung Muda Brigjen Sunaryo. Pada pukul 15.00 Pangak Jenderal Sutjipta Judodihardjo datang, disusul oleh Pak Leimena.

Lalu pada pukul 17.00 putra-putri Bapak – Megawati, Rahmawati, Sukmawati, dan Guruh – datang. Dengan helikopter mereka kemudian diterbangkan ke Bandung.

Pada pukul 18.00 ada laporan dari Komodor Susanto bahwa ada konvoi militer menuju Halim, tapi dihentikan di depan pos PGT (Pasukan Gerak Tjepat) TNI-AU.

Ibu Dewi kemudian datang pada pukul 20.00 lebih. Kolonel Saelan kemudian memerintahkan untuk mempersiapkan diri buat meninggalkan Halim. Agar tak mencolok, konvoi berjalan bertahap. Bapak menumpang mobil Prins, warna biru, B 3739 R. Di dalamnya ikut serta Pak Leimena, Bambang Wijanarko, Sudarso, dan Suparto.

Semua pengawal, kecuali seorang yang berseragam Cakrabirawa, memakai pakaian preman, tapl tiap orang membawa revolver. Dalam jip-jip mereka (ada delapan mobil dalam rombongan) total ada 18 senjata Thomson. Hampir mendekati tengah malam, kami sampai ke Istana Bogor

mangil martowidjojo copy

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: